Air Mata Haru Usai Tim HWC Indonesia Penuhi Nazar Main 36 Jam Nonstop

  • Jakarta - Di lapangan mungil di bawah jembatan layang Pasupati, Bandung, Sabtu (4/10/2014) sore, hadir kehebohan kecil. Sekumpulan orang terlihat bersujud syukur lalu saling peluk penuh haru. Mereka adalah tim Indonesia untuk Homeless World Cup 2014 yang baru saja selesai bermain street soccerselama 36 jam nonstop untuk memenuhi nazar.

  • Seperti beberapa tahun terakhir, tahun ini Indonesia akan kembali berpartisipasi dalam perhelatan Homeless World Cup (HWC), sebuah turnamen untuk kaum termarjinalkan. Melibatkan puluhan negara, sehingga punya nuansa ala Piala Dunia, para partisipan turnamen street soccer itu diharapkan dapat mengalami perubahan positif sebagai bekal diri di kemudian hari.

  • Tim Indonesia sendiri, melalui proses seleksi yang dilakukan Rumah Cemara selaku national organizer, sudah dibentuk sejak Agustus lalu. Lewat prosesroadshow dalam konsep League of Change (Loc) di 9 provinsi di Indonesia, yang digelar sedari Juli, delapan orang sudah terpilih. Setelah itu pemusatan latihan di bawah pimpinan pelatih Bonsu Hasibuan dan pelatih fisik Bogiem Sofyan pun dilakukan di Bandung.

  • Akan tetapi, usaha menuju Santiago, Chile--tempat Homeless World Cup 2014 kali ini dihelat pada 19-26 Oktober--lalu menemui kendala dana. Di sinilah tercetus janji akan bermain street soccer selama 36 jam nonstop seandainya masalah ini teratasi. Pada akhirnya kendala itu berhasil dilewati, tim dipastikan berangkat ke Chile, dan pelaksanaan nazar, yang turut digunakan sebagai persiapan akhir menjelang pemberangkatan, pun dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 3-4 Oktober.

  • "Kita mulai dari hari kemarin (Jumat) jam 4.00 Subuh dan akan finis jam 4 sore," tutur Manajer tim Indonesia untuk HWC 2014 Febby Lorentz pada saat pelaksanaan nazar tersebut di lapangan Bawet, Bandung.

  • Salah satu tim yang ikut menjajal tim Indonesia HWC 2014 ini adalah band papan atas Indonesia Changcuters--yang sebelumnya juga turut berperan dalam proses penggalangan dana tim ini. Datang dengan gaya khas mereka, Tria dkk. tak cuma ikut menyepak si kulit bundar di lapangan street soccer melainkan juga melontarkan pesan dan harapannya. "(Di Chile) Jangan ada beban, main lepas, fokus. Semoga setelah pulang bisa membawa perubahan untuk dirinya sendiri dan orang di sekitarnya."

  • Bukan Nazar Pertama

  • Bicara mengenai nazar itu sendiri, hal ini sebenarnya bukan yang kali pertama dilakukan pasalnya kendala dana juga pernah dihadapi oleh tim ketika hendak mengikuti HWC 2012 di Mexico City. Ketika itu nazar bermain selama 24 jam nonstop pun dilontarkan dan dipenuhi, dengan tim Indonesia pada tahun tersebut akhirnya berhasil masuk semifinal di Mexico City, sebelum dikalahkan Brasil dan finis pada posisi empat.

  • "Harapan kita (tahun ini) mudah-mudahan dapat mencapai hasil maksimal karena persiapan sudah lama, bisa dibilang sudah cukup matanglah. Tinggal di sini, (main) 36 jam ini, nazar sekalian melatih fisik dan mental mereka juga biar nanti di Chile sudah siap. Pengalaman dari waktu 2012, saat kita nazar 24 jam, itu kepake banget pas di Meksiko," sebut Febby.

  • "Saya memotivasi bahwa ketika kita berhasil 36 jam di sini, mungkin tidak akan ada masalah di Chile. Yang paling penting adalah bagaimana mengalahkan diri sendiri, karena ini penting untuk mental pemain," timpal Bonsu, yang sebelumnya juga pernah mengapteni tim Indonesia di ajang HWC. "Saya sendiri pribadi, pelatih, ingin ke final."

  • Kendatipun demikian, digilir puluhan tim selama sekitar 1,5 hari penuh tentu cukup menguras tenaga delapan pemain tim Indonesia HWC 2014--meskipun mereka bisa tampil secara bergantian agar tetap dapat beristirahat sejenak. Mengingat waktu pemberangkatan kian dekat, kerisauan akan cedera tentu ada. Tapi hal itu pun sudah diantisipasi di antaranya dengan menyediakan bak air es untuk pemulihan kondisi. Selain itu, para pemain pun berikutnya direncanakan tak banyak melakukan aktivitas fisik melainkan refreshing belaka untuk menambah kekompakan dan kebersamaan, sekaligus menguatkan strategi.

  • Momen Terpenuhinya Nazar dan Air Mata Haru

  • Menit demi menit berlalu, jarum jam kian mendekati pukul 16.00 WIB tanda bahwa 36 jam akan segera genap dan nazar terlaksana. Tim terakhir dihadapi. Kendatipun saat itu niscaya sudah lesu, semangat baru seperti datang menyerbu anak-anak HWC 2014 yang saat itu memburu waktu dengan tampil menggebu. Lalu peluit panjang pun berbunyi, disambut tepuk tangan sejumlah orang yang turut meramaikan lapangan sore hari itu. Di dalam lapangan, para pemain bergumul dengan rasa haru yang datang silih berganti dengan rasa gembira dan lega.
  • Tak lama berselang, momen istimewa itu diramaikan dengan kedatangan tamu spesial yang memang sudah ditunggu-tunggu: Walikota Bandung Ridwan Kamil. Mengenakan celana jins yang dipadankan dengan blazer hitam untuk membalut t-shirt merahnya, pria yang akrab disapa Emil tersebut langsung menyalami satu per satu para pemain tim Indonesia.

  • Setelah ramai-ramai menyanyikan Bagimu Negeri, di bawah naungan bendera kebangsaan berukuran besar Ridwan Kamil kemudian juga mengalungkan dasi merah putih di leher tiap para pemain. Nuansa haru lagi-lagi menyembul, dengan para pemain tampak kesulitan menahan air matanya.

  • Orang nomor satu di Bandung tersebut lantas juga membantu memberikan jersey kepada tim. Ridwan Kamil satu per satu mengabsen pemain dari nama yang tertera di bagian punggung jersey-nya, lalu menyerahkan kaus ke yang bersangkutan.
  • "Tidak boleh takut dan tidak boleh menyerah, tidak ada kemenangan tanpa kerja keras, tidak ada kemenangan tanpa keringat. Indonesia juara!" serunya diikuti teriakan lantang orang-orang yang turut meramaikan acara sore hari tersebut.

  • Yang menarik, usai rentetan acara Ridwan Kamil mendapat kejutan ketika suara nyanyian selamat ulang tahun beserta tepuk tangan riuh-rendah tiba-tiba menyeruak dari belakangnya, diikuti kemunculan kue ulang tahun. Ya, hari ini memang menjadi ulang tahun pria kelahiran 4 Oktober 1971 tersebut.
  • "Di balik keterbatasannya mereka punya determinasi yang luar biasa, determinasi tidak boleh menyerah dan tidak takut. Ini menjadi nilai-nilai hidup mereka, 36 jam membuktikan endurance-nya sangat luar biasa," ucap Ridwan Kamil usai acara.

  • "Kalau sudah di sana saya sangat paham betapa mengibarkan bendera merah putih itu suatu kerinduan yang luar biasa. Dan pulang dari sini mereka punya nilai-nilai hidup yang luar biasa, bahwa mereka bisa melakukan kegiatan dengan cara-cara yang baik dengan semangat tidak pernah menyerah.

  • "Minimal semifinal-lah (di Chile) menyamai rekor kakak-kakak sebelumnya. Tapi kalau bisa juara, wah, luar biasa, nanti saya kaul naik bandros keliling Bandung," ceplosnya merujuk pada Bandung Tour on the Bus--moda transportasi berupa bus tingkat untuk wisatawan yang ingin berkeliling 'Kota Kembang'.


Comments

Popular posts from this blog

Presiden Inter Milan, Massimo Moratti Mengundurkan Diri dari Jabatannya

Terry: Chelsea Main Lebih Menyerang dan Bertahan dengan Solid

Sir Alex Ferguson di Anggap Turut Bertanggung Jawab, Saat Manchester United Berpenampilan Buruk Musim Lalu